“Ayo dimakan semua, tadikan baru bubur semangkok ini cuma bakso aja yang bisa saya kasih,” ucap Mas Har.
Walau masih kenyang habis dikasih bubur, untuk memuliakan niat baik beliau, akhirnya saya makan juga.
Ini salah satu ucapan beliau saat saya kemarin berkunjung ke rumahnya, di gang sempit daerah Jakarta.
Mas Har ini sahabat saya bertahun-tahun, istrinya mengidap penyakit yang seharusnya dikemoterapi namun tidak dilakukan karena tidak ada biaya.
Anaknya menderita penyakit epilepsi dari kecil, pekerjaannya hanya punya warung kecil di rumah yang sebesar ruang tamu kita, kadang juga ojek anak-anak sekolah.
Yang membuat saya senang mengunjungi beliau dan keluarganya adalah karena mereka tak pernah sedikitpun, Mas Har, istri dan anaknya terlihat bersedih, mereka selalu penuh tawa riang dan jika saya kasih sesuatu dia akan kasih lebih banyak lagi ke saya.
Subhanallah, rasanya berat masalah yang saya hadapi tak ada artinya dibanding masalah yang Mas Har hadapi.
Saya menyaksikan ekonomi mereka yang bisa jadi di bawah kita, diuji dengan kesehatan istri dan anaknya namun mereka tak pernah mengeluh, menikmati hidupnya yang sekarang.
Satu hal yang pernah saya ingat dari beliau.
“Pak Reza, jika rumah kita sudah kecil, jangan sampai hati kita jadi sumpek juga, sudah banyak ujian, jangan sampai kita gak bisa ketawa bareng dengan istri dan anak, selama saya, istri, anak masih bisa ketawa dan syukur, kayanya gak ada ujian yang berat buat kami”
Subhanallah
Terdiam saya mendengarnya dan terlintas ayat.
“Maka Nikmat Tuhanmu mana lagi yang engkau dustakankan..”
Oleh: Muhammad Reza A
Leave a Reply