Nama Musa mulai terkenal sejak mengikuti acara Hafidz Indonesia 2014 yang disiarkan di stasiun TV swasta. Bocah asal Bangka Belitung dari pasangan La Ode Abu Hanafi Abu Musa dan Yulianti, saat itu masih berusia 5,5 tahun. Dia telah mampu menghafalkan seluruh ayat suci Al-Quran, kecuali surat Al Isra dan An-Nahl di juz 30. Selain menghafal Al-Quran, Musa mampu menghafal Hadist Arba’in Imam Nawawi beserta maknanya.
Saat kali pertama Musa tampil di panggung, hadirin di dalam studio tersebut menangis terharu menyaksikan kemampuan Musa. Bahkan Prof Amir Faishol, pakar tafsir Al-Quran yang saat itu menjadi salah satu juri, sembari berlinang air mata mendatangi Musa lalu mencium tangannya.
Bocah cilik yang masih cadel dan belum bisa mengucapkan huruf r, sebetulnya sosok anak yang pemalu. Musa memang jarang bertemu banyak orang sehingga saat kali pertama tampil di panggung sangat gugup saat itu. “Saat itu dia sudah mau menagis,” ujar Hanafi. Setelah ditenangkan , perlahan Musa mulai bisa menyesuaikan diri. Untuk memudahkan adaptasi, Hanafi membaurkan Musa dengan peserta lainnya.
Bekat usaha dan kerja keras yang dilakukan Musa, ia berhasil meraih juara pertama pada program acara tersebut. Oleh karena itu, orang-orang lebih mengenal Musa dengan sebutan ‘Musa Hafidz Cilik’. Mulai saat itulah Musa terkenal di khalayak ramai baik di dalam negeri maupun di Malaysia dan Singapura.
Prestasi Musa yang gemilang membuatnya bertolak ke Jeddah, Arab Saudi pada tahun 2014, untuk diikutsertakan dalam lomba hafalan Alquran Internasional. Musa harus bersaing dengan para hafidz dari seluruh dunia.
Dalam acara yang digelar oleh Hai’ah Alamiyah Litahfidzil Quran, Musa menjadi peserta termuda dari 25 peserta anak-anak dari seluruh dunia. Dalam ajang lomba tersebut Musa menduduki peringkat ke 12 dengan mendapatkan nilai Mumtaz yakni 90,83 poin dari 100 nilai sempurna.
Pasca perlombaan, Musa berhasil menuntaskan hafalan menjadi keseluruhan 30 juz Al-Quran, sebelum mengikuti acara lomba sebenarnya Musa hanya kurang dua surat saja. Pada Agustus 2014, Musa memperoleh piagam penghargaan tingkat nasional dari Muri (Museum Rekor Indonesia) sebagai Hafidz Al-Quran 30 juz termuda di Indonesia.
Pada tahun ini aja, Musa mengikuti lomba Musabaqah Hifzil Quran (MHQ) Internasional di Sharm El-Sheikh Mesir pada 10-14 April kemarin. Dikutip dari halaman Kemlu.go.id, jumlah peserta MHQ untuk semua cabang mencapai 80 orang yang terdiri dari 60 negara.
Musa yang saat ini baru berusia 7 tahun, mengikuti lomba cabang Hifz Al-Quran 30 juz untuk golongan anak-anak, dan sekali lagi Musa menjadi peserta paling kecil diantara seluruh peserta lomba, karena peserta lainnya berusia di atas sepuluh tahun.
Dalam lomba tersebut Musa berhasil meraih juara ketiga dengan memperoleh nilai 91,17. Prestasi yang Musa raih menjadi bukti kepada dunia bahwa anak-anak Indonesia, mampu menciptakan para Hafidz cilik tak kalah dengan anak-anak di negara-negara Timur Tengah.
Dalam lomba tersebut, Musa diminta untuk menuntaskan 6 soal, yang berhasil dilalui Musa dengan tenang, tanpa ada salah maupun lupa. Lancarnya bacaan dan ketenangan Musa dalam membawakan ayat-ayat Al-Quran yang ditanyakan Ketua Dewan Juri Sheikh Helmy Gamal, membuat Wakil Ketua Persatuan Quraa Mesir meneteskan air mata.
Decak kagum terhadap penampilan Hafidz cilik dari Indonesia tidah hanya ditunjukkan oleh dewan juri dan para hadirin, para peserta yang menjadi saingan Musa pun menunjukkan decak kagum kepada utusan Indonesia.
Musa dinilai telah menjadi juara di hati dewan juri dan para hadirin, meskipun secara tertulis dia hanya memperoleh juara tiga. Menurut Syeikh Helmy Gamal bacaan Al-Quran diatur dengan kaedah dan hukum yang jelas dan tidak bisa dikesampingkan antara lain terkait makharijul huruf.
Setelah tampil, Musa langsung diserbu oleh para hadirin untuk berfoto dan mencium kepalanya sebagai bentuk takzim sesuai budaya masyarakat Arab. Pada acara penutupan, Menteri Wakaf Mesir Prof. Dr. Mohamed Mochtar Gomaa memanggil Musa dan Abu Hanafi secara khusus. Pada kesempatan tersebut Menteri Gomaa atas nama Pemerintah Mesir mengundang Musa dan Hanafi pada peringatan Malam Lailatul Qadar yang diadakan pada Ramadan mendatang.
Peran Orangtua Bagi Kesuksesan Musa
Minat Musa terhadap Alquran sudah tampak sejak dirinya belum genap berusia dua tahun. “Setiap kali saya perdengarkan kaset murottal (pembacaan) Al-Quran anak, dia senang dan sangat antusias menirukan,” ungkap pria 35 tahun. Melihat kondisi tersebut, Hanafi pun semakin sering memperdengarkan kaset murottal kepada Musa.
Sebagai seorang ayah, Hanafi mulai membimbing Al-Quran untuk anaknya itu. Pada usia 2 tahun tentu saja Musa belum bisa membaca Alquran, Hanafi menggunakan metode talqin atau membaca hafalan. Musa saat itu diminta untuk menirukan pelafalan sang ayah. Hanafi mengajari Musa dengan perlahan karena ia juga mengingat usia Musa. Satu sesi belajar saja hanya berlangsung lima sampai sepuluh menit.
Bukan hal yang mudah untuk mengajarkan Al-Quran kepada anak yang berusia dua tahun. Proses Musa untuk menjadi Hafidz tidak seperti yang dibayangkan kebanyakan orang. Bagian pertama yang diajarkan kepada Musa adalah surat terakhir Al-Quran, yakni surat An Naas.
“Saya ajarkan Qul saja, butuh 2 sampai 3 hari dia ikuti. Kemudian menyambung kata Qul dengan Audzu juga butuh waktu,” ujarnya.
Butuh waktu satu pekan bagi Musa untuk menghafalkan Qul A’udzu Birobbinnas (Ayat pertama dalam surat An Naas yang berarti katakanlah aku berlindung dari Tuhan manusia). Kemudian, saat berhasil menghafal ayat kedua, Musa lupa bagaimana bunyi ayat pertamanya sehingga hafalan harus diulang dari awal. “Jadi, surat An Naas itu mungkin bisa ratusan kali diulang sama saya,” ungkapnya.
Metode talqin hanya dilakukan Musa selama dua tahun dan menghasilkan hafalan dua juz saja, yakni juz 30 dan 29. Hanafi mengajari Musa menghafal dari belakang, yakni dari juz 30 hingga 18. Kemudian, dia melanjutkan pelajaran menghafal dari juz 1.
Di Usianya yang keempat tahun, Musa sudah mulai bisa membaca Al-Quran sehingga proses hafalan menjadi lebih ringan daripada sebelumnya. Karena sudah bisa membaca Al-Quran, Musa mulai bisa belajar mandiri. Setiap hari Musa mampu menghafal 2,5 sampai 5 halam Al-Quran dan diperdengarkan di depan Hanafi.
Dalam bimbingan hanafi, Musa bisa menghabiskan waktu 6 sampai 8 jam untuk menghafal Al-Quran dan. Hanafi memang seorang guru ngaji. Hanafi juga menghidupi keluarga kecilnya lewat kebun karet miliknya dan usaha dagangnya.
Lazimnya seorang bocah, waktu bermain juga menjadi kebutuhan yang tak bisa diabaikan. Untuk itu, setiap empat hari Hanafi meliburkan pelajaran menghafal Al-Quran dan memberikan Musa kesempatan bermain seharian.
”Musa main mobil, kereta, sama bola sampai kotor,” ucap Musa saat ditanya mainan kesukaannya sembari bergelayut manja di pangkuan sang ayah.
Musa tampaknya tidak terbebani akan gelar Hafidz yang disematkan kepada dirinya. Sebagaimana layaknya bocah, Musa sangat senang manakala disodori akan mainan. Musa juga sudah punya cita-cita yang ingin diraihnya. “Ingin jadi pilot,” ucap Musa.
Sumber: dari berbagai berita online
sumber gambar:
Leave a Reply