Kisah Penjelajah Muslim dari Negeri Tiongkok “Laksamana Cheng Ho”

Cheng Ho adalah penjelajah dengan armada kapal terbanyak sepanjang sejarah dunia yang pernah tercatat. Sekaligus  juga memiliki kapal kayu terbesar dan terbanyak sepanjang masa hingga saat ini. Selain itu, dia adalah pemimpin yang arif dan bijaksana. Dengan armada yang begitu banyaknya, beliau dan para anak buahnya tidak pernah menjajah negara atau wilayah di manapun armadanya merapat. Semasa di India termasuk ke Kalkuta, anak buahnya membawa seni beladiri lokal bernama Kallary Payatt yang mana setelah dikembangkan di negeri Tiongkok menjadi seni beladiri Kungfu.

Cheng Ho, lahir sekitar tahun 1371 di provinsi Yunnan, Hodai, sebuah kampung di Daerah Bao San. Orang tuanya memberi nama Ma He sedangkan Ma San Po  (dialek fujian bisa diucapkan Sam po) merupajkan nama kecil dari Laksamana Cheng Ho. Beliau merupakan anak kedua dari pasangan Ma Hazhi dan Wen ibunya. Sebagai orang Hui yaitu etnis Cina yang sebagian besar adalah Muslim. Cheng Ho sejak kecil sudah memeluk agama Islam. Baik itu dari kakeknya dan ayahnya sudah menunaikan ibadah haji.

Saat Dinasti Ming menguasai Yunnan dari Dinasti Yuan (bangsa Mongol), banyak pemuda yang ditangkap dan dijadikan kasim di Nanjing. Ma He yang saat itu masih berusia 11 tahun pun diabadikan ke Raja Zhu di istana Beiping (sekarang Beijing). Ketika menjadi kasim atau abdi kaisar, Kasim San Po  berhasil menunjukkan keberaniannya saat memimpin anak buahnya dalam serangan militer melawan Kaisar Zhu Yunwen (Dinasti Ming).

Pada Tahun 1405 M , Kaisar Zhu mensponsori beberapa ekspedisi armada laut ke beberapa penjuru dunia. Tujuannya adalah untuk mengembalikan kejayaan Tiongkok, perdagangan, dan memperluas pengaruh di Samudera Hindia. Di sinilah Kasim San Po (Cheng Ho) menawarkan diri untuk melakukan misi ekspedisi ini dan Kaisar menyetujui.

Bulan Ramadhan adalah masa yang sangat ditunggu-tunggu Cheng Ho. 7 Desember 1411 sesudah pelayarannya yang ke- 3, pejabat di Istana Beijing ini menyempatkan mudik ke kampungnya untuk melakukan ibadah puasa sekaligus berziarah ke makam sang ayah.

Setiap kali berlayar, banyak awak kapal beragama Islam yang turut serta. Sebelum melaut mereka melaksanakan sholat berjamaah. Beberapa tokoh Muslim yang pernah ikut adalah Ma Huan, Guo Chongli, Fei Xin, Hassan, Sha’ban, dan Pu Heri. “Kapal-kapalnya diisi dengan prajurit yang kebanyakan terdiri atas orang Islam” tulisan dari Hamka.

Ma Huan dan Guo Chongli yang fasih berbahasa Arab dan Persia, bertugas sebagai penerjemah. Sedangkan Hassan yang juga pimpinan Masjid Tang Shi di Xian (Provinsi Shan Xi) berperan mempererat hubungan diplomasi Tiongkok dengan negara-negara Islam.

Beberapa sejarawan menyakini bahwa petualang sejati ini sudah menunaikan ibadah haji. Memang tak ada catatan sejarah yang membuktikan hal itu, tapi pelaksanaan haji kemungkinan dilakukan saat ekspedisi terakhir (1431 M- 1433 M). Saat itu rombongannya memang singgah di Jeddah. Muslim pemberani ini meninggal pada tahun 1433 di Calicut (India) dalam pelayaran terakhirnya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*