Hasyim Asy’ari Sosok yang Menjaga Tradisi Pesantren

Jika mendengar nama Nahdatul Ulama (NU) kita pasti akan langsung teringat dengan pendirinya, yaitu KH Hasyim Asy’ari. Pertentang faham yang terjadi di dunia Islam saat itu menjadi salah satu alasan KH Hasyim mendirikan NU, selain itu, ia juga ingin mempertahankan faham bermadzhab dan membendung faham pembaharuan.

KH Hasyim lahir tanggal 10 April 1875 atau menurut penanggalan arab pada tanggal 24 Dzulqaidah 1287 H di Desa Gedang, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur dari pasangan Kyai Asyari dan Halimah.

Menuntut ilmu dari satu pesantren ke pesantren lainnya sudah dilakukan oleh KH Hasyim sejak usianya 15 tahun. Di tahun 1893, ia berangkat ke Tanah Suci. Ia menetap di Mekkah selama 7 tahun dan berguru pada Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syaikh Mahfudh At Tarmisi, Syaikh Ahmad Amin Al Aththar, Syaikh Ibrahim Arab, Syaikh Said Yamani, Syaikh Rahmaullah, Syaikh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As Saqqaf, dan Sayyid Husein Al Habsyi.

Tahun 1899, KH Hasyim pulang ke Tanah Air, ia mengajar di pesantren milik kakeknya, Kyai Usman. Ia kemudian membeli sebidang tanah di Dukuh Tebuireng. Di sana ia membangun sebuah tratak sebagai tempat tinggal. Dari tempat inilah, Hasyim biasa mengajar dan salat berjamaah. Tempat ini juga yang menjadi cikal bakal Pesantren Tebuireng.

Pesantren menjadi caranya melancarkan pembaharuan sistem pendidikan keagamaan Islam tradisional. Tidak hanya belajar agama, ia juga menambahkan pengetahuan umum dalam kurikulum pesantren, bahkan sejak 1926 bahasa Belanda dan sejarah Indonesia menjadi bagian dari pelajaran di pesantren.

Pengaruh serta kharismanya yang begitu kuat membuat KH Hasyim mendapat perhatian khusus dari penjajah. Baik Belanda maupun Jepang berusaha untuk merangkulnya, bahkan ia dihadiahi bintang jasa namun ia tolak.

Sikapnya yang berani ditunjukkan dengan memfatwakan bahwa perang melawan Belanda adalah jihad (perang suci). Hal ini membuat Belanda kerepotan, karena perlawanan muncul di mana-mana. Selain itu, KH Hasyim juga pernah mengharamkan naik haji memakai kapal Belanda. Fatwa tersebut ditulis dalam bahasa Arab dan disiarkan oleh Kementerian Agama secara luas.

KH Hasyim Asya’ri meninggal dunia pada tahun 1947 dan dikebumikan di Tebu Ireng, Jombang. Dalam perjalanannya, di sebuah studi tentang Pandangan Hidup Kyai, Zamakhsyari Dhofier manggambarkan Hasyim Asy’ari sebagai sosok yang menjaga tradisi pesantren.

Sumber: dari berbagai sumber

Sumber gambar 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*